Oleh: Aan Sopiyan | 29 April, 2014

Nasehat Cinta

Selama ini saya bingung dengan nasehat cinta yang aneh itu. Beberapa waktu kemudian saat saya pulang ke kampung halaman setelah lima tahun bekerja di luar kota, saya tersadarkan. Lebih tepatnya, orangtuaku yang menyadarkan.

Ayah dan ibuku masih memelihara kebiasaan lamanya yaitu sarapan bersama dengan hidangan yang cukup beragam karena ibu tahu bahwa ayah tidak suka makanan yang tidak banyak sayur dan buah. Di hari kepulangan saya, ibu menyajikan kue lumpur yang super gosong.

Kalau dipikir-pikir, mungkin ayah tak akan memakan kue lumpur tersebut walau itu adalah kue kesukaannya. Namun, pada akhirnya ia tetap memakan dengan lahap sambil tersenyum dan mendengarkan cerita ibu atau saya. “Bagaimana Jogja?” kata ayah masih sempat bertanya padaku.

“Baik, Pak. Betah kok kerja di sana,” jawabku.

Namun dibanding menjawab pertanyaannya, saya lebih memilih untuk mengamati ekspresinya. Ia tidak kelihatan senang dengan terpaksa di depan istrinya saat makan kue lumpur itu.

saya ingat, beberapa tahun lalu saat adikku masih balita, pekerjaan rumah ibu banyak sekali. Kadang ia masak sampai gosong, keasinan, lupa garam karena banyaknya yang ia lakukan, yang mana anak-anaknya akan menyisakan makanan itu di piringnya. Namun ayahku tidak, dia akan menghabiskannya, bahkan meminta kami ikut menghabiskan juga.

Tapi saat itu saya hanya tahu bahwa itu tentang “tidak membuang-buang makanan”. Kini, saya tahu alasan yang lebih besar dari semua itu.

Siang itu juga, ayah mengajakku memancing di kolam umum dekat rumah. Kami berbekal pisang goreng buatan ibu. Kali ini lagi-lagi agak gosong. Maka, kutanyakan pada ayah, mengapa ayah suka makanan gosong. Dan begini jawabannya.

“Sejak menikah, ibumu berusaha keras menjadi istri terbaik bagi ayah. Mulai dari ia belajar memasak hingga anak-anaknya lahir ke dunia, ia tak hanya menjadi istri, tapi juga jadi ibu,” kata Ayah sambil menerawang ke arah pancingannya.

“Banyak pekerjaan yang dia lakukan. Ada yang benar, ada yang berantakan. Ketidaksempurnaan seringkali membuat kita berpikir negatif,” Ayah melihat ke arahku. “Namun karena Ayah melihat cinta dalam setiap jerih payah ibumu, semuanya nampak indah dan enak. Iya to?” ujarnya sambil tergelak dan menyenggol tanganku.

“Pisang goreng ini kesukaanmu, kan? Mungkin kamu hanya tahu kalau pisangnya gosong. Tapi, ayah tahu kalau ibu sudah merencanakan membuat pisang ini jauh-jauh hari. Rela ke pasar untuk cari pisang bagus, tidak nitip ke tukang sayur,” kata ayah dengan senyum penuh makna.

Ia seperti bisa membaca pikiranku mengapa saya bertanya hal ini padanya. Saya cengengesan dengan agak tersipu malu. Ayah merangkul pundakku dan berkata, “Ibumu itu wanita hebat yang sudah bekerja sangat keras demi keluarga ini. Dia layak mendapatkan cinta yang bertubi-tubi. Lagipula, pisang goreng gosong sedikit nggak akan bikin sakit hati, to?”

Saya mengangguk. saya kini mengerti dengan pola pikir ayah. Cinta itu hal yang sederhana. Abu gosong makanan tak perlu menjadi prahara baginya, itu hanya hal kecil yang tak perlu dibesar-besarkan. Yang penting dari sebuah hubungan cinta itu bukan tentang sempurna atau tidak sempurna, namun berusaha membuat sebuah hubungan selalu sehat, tumbuh dewasa dan tahan hingga selama-lamanya.[]

Permalink : http://aansopiyan.com/nasehat-cinta/

Older Posts »

Kategori